Pages

Hosting Indonesia ____________________________________________________________________________________

Wednesday, November 20, 2019

MEMBANGUN USAHA DENGAN MODAL PINJAMAN KOPERASI (4)

Oleh: Rofinus Emi Lejap
MENJADI PRODUSEN SIRUP
"BUAH SEMU" JAMBU MENTE

Setelah mengetahui cara mengolah buah semu jambu mente serta manfaatnya, langkah selanjutnya meningkatkan produksi dengan modal, tenaga kerja, dan peralatan yang lebih higienis sehingga hasil produksi memberi kesan profesional. Dengan bahan baku buah semu jambu mete cukup melimpah dari perkebunan rakyat, dan kebetulan banyak yang belum dimanfaatkan sehingga cocok dijadikan usaha jangka panjang. Supaya niat itu dapat terwujud perhitungan juga harus matang.
Perusahaan Kreatif Buah Semu Jambu mete:
1. Penetapan produksi dan pengadaan bahan,
2. Tenaga kerja,
4. Modal finansial (uang),
5. Proses produksi,
6. Pengemasan,
7. Pemasaran dan distribusi.
8. Evaluasi dan perbaikan.

1. Penetapan produksi dan pengadaan bahan: 

Buah semu jambu mente bisa diolah menjadi banyak kuliner inovatif yang bermanfaat, tetapi supaya kita lebih fokus melakukan produksi, tentukan 2 atau 3 produk saja yang akan menjadi bisnis utama (main business). Kita tiga, yaitu: sirup jambu mente, manisan kering jambu mente, dan asinan buah jambu mente
Setelah langkah selanjutnya yaitu pastikan pengadaan bahan. Buah semu jambu mente banyak diperoleh pada musim panen buah jambu mente antara bulan September sampai Mei. Para pemilik perkebunan jambu mente biasanya terpusat pada glondongan biji sedangkan buah semu kurang mendapat perhatian, tetapi itu menjadi sumber bahan baku yang berprospek ekonomi. 
Hubungi pemilik tanaman atau perkebunan jambu mente, buat perjanjian bila perlu tertulis dan juga jaminan komisi dengan pemilik perkebunan sehingga bahan baku lebih terjamin serta tersedia.

2. Tenaga Kerja:
Untuk produksi dalam jumlah relatif banyak serta berkelanjutan perlu ada tenaga kerja terlatih dengan pola kerja yang terjadwal sehingga operasi produksi juga lebih fokus. Jangan sampai tidak adanya tenaga kerja tetap, rencana produksi terbengkelai yang berakibat pada kerugian yang tidak perlu terjadi.

Pilih beberapa orang yang mau bekerja sama sesuai produksi, seperti menjadi penanggung-jawab seluruh proses, pengadaan bahan baku, penanganan produksi mulai dari   sirup jambu mente, manisan kering jambu mente dan asinan serta bagian pemasaran (marketing).

Jadi tenaga kerja tetap 5 orang dan semua harus terlibat aktif sejak perencanaan, pelaksanaan, pemasaran, dan pelaporan hasil marketing. Bila pada bagian tertentu terjadi kemacetan akibat kesalahan penanggungjawab, maka segera dievaluasi untuk diperbaiki.

3. Peralatan untuk produk sirup:
Alat-alat produksi sangat penting diperhatikan agar mencapai produksi yang maksimal. Untuk produksi kuliner dengan bahan baku buah semu jambu mete, peralatan yang digunakan:
1). Satu ember bak untuk mencuci buah jambu mete 
2). Ember atau baskom sedang untuk pengolahan
3). Dandang yang besar dan sedang sesuai produksi
4). Kompor
5). Alat pengepres buah yang telah dimasak
6). Alat saringan atau kain saring
7). Wadah penyaring buah; ember atau baskom.
8). Botol atau wadah untuk pemasaran (jumlah sesuai volume produksi)

Bahan lain;  serbuk gelatin (pengangkat debu atau kotoran). 
Gelatin dapat diganti dengan putih telur yang dimasak bersama saringan buah untuk 
mengikat kototan. 
Gula pasir.

4. Modal finansial (uang):
Tujuan produksi untuk mencari atau mendapatkan uang, tetapi sejak awal uang menjadi alat yang sangat menunjang keberhasilan. Bila sudah memiliki tabungan hal itu akan sangat membantu, tetapi bila belum cukup maka perlu mencari tambahan modal
Kredit pada kaum rentenir, kebanyakan hanya terus menerus 'menggali lubang hutang' sehingga si peminjam tidak terbebas dari utang pinjaman.
Berdasarkan pengalaman, pinjaman yang aman yaitu melalui koperasi kredit (kopdit) dengan besar pinjaman dan waktu pinjaman serta besar angsuran disesuaikan dengan kesanggupan si peminjam. Pilihlah koperasi yang tidak saja memberikan pinjaman, tetapi juga melakukan pendidikan atau pembinaan kepada anggota. Sehingga usaha anggota semakin maju berkembang dari waktu ke waktu.
Cuntoh ember dengan harganya


5. Proses produksi:
Buah semu jambu mente dapat dibuat menjadi berbagai macam kuliner. Tetapi supaya tetap pada fokus, maka ulasan pertama ini tetap pada pembuatan sirup.
a). 25 sampai 30 kg buah semu yang baru dipetik dicuci dan direndam dengan air garam
     selamat 3 sampai 4 jam. Tujuannya untuk menghilangkan rasa sepat.  dan gatal.
b). Siapkan bahan lain; NaCl 20 gram (garam dapur), 2 gram serbuk gelatin, 700 gram gula 
      pasir, dan 3 gram asam sitrat (mengawetkan sirup). 

c). Buah dibelah 4  dan direndam dalam larutan garam selama 24 jam. Larutan garam 2% dibuat
      dengan melarutkan 20 gram daram dapur (+ 6 sendok teh garam) dalam 1 liter air.  
d). Langkah selanjutnya, buah diangkat, dicuci dan ditiriskan.
e). Kukus selama 20 menit, dan dibiarkan sampai dingin.
f). Buah yang telah dimasak dipres dengan alat manual atau dengan mesin press buah.
     Bila tidak/belum ada mesin press dapat melakukan pemerasan langsung, dengan buah dibungkus
     saring.
g). Sari buah hasil perasan disimpan pada wadah yang bersih
h).  Tammbahkan serbuk gelatin ke dalam sari buah lalu dipanaskan lagi selamat 15 menit sambil
      diaduk.
i). Saring sari buah pada sebuah wadah yang bersih
j). Tambah gula pasir 700 gram dan perasan jeruk nipis 5 buah  atau asam sitrat 3 gram.
k). Panaskan sambil diaduk setitar 20 menit.
l). Masukkan sirup ke dalam botol (beling bukan botol plastik) lalu ditutup rapat.
m). Botol-botol sirup dipanaskan lagi selama 30 menit. Bila belum ada mesin pemanas, botol-botol
      direbus dalam air panas. Tetapi proses perebusan tetap diatur dan dijaga agar botol tidak pecah.
n). Sirup diaankan dalam kulkas atau langsung dikirim ke para konsumen.

Selamat memulai usaha dan jangan lagi memikirkan 'emas' di negeri orang.











































































Monday, July 29, 2019

Sabah Bossku


https://www.lazada.co.id/products/d-icon-bts-photobook-exclusive-on-lazada-i507482956-s662358774.html?spm=affiliate.campaign_details.0.0.349dc605RIjOts&search=1

Sabah negeri ‘dibawa bayu’ julukanmu
mula-mula aku tidak mengenalmu
tapi kudengar dari cerita orang,
lama-lama aku mulai jatuh cinta padamu
aku pun kesini, Sabah
negri sejuta impian dan seribu kenangan

di sinilah keringat bercucuran membasahi tubuhku
dan kadang setetes darahku pun tumpah
aku cedera saat mencari pundi-pindi ringgit
ditukar menjadi rupiah, dikirim ke Indonesia

Sabah bossku
Sabah bole-ba kau
Sabah bagus-ba kau
Sabah I love you
Sabah aku tidak melupakanmu

Kalau sudah datang di Sabah
biarpun sudah balik kampung
namun ingat Sabah
rindu Sabah, datang lagi kesini.


https://www.lazada.co.id/products/d-icon-bts-photobook-exclusive-on-lazada-i507482956-s662358774.html?spm=affiliate.campaign_details.0.0.349dc605RIjOts&search=1

https://www.lazada.co.id/products/d-icon-bts-photobook-exclusive-on-lazada-i507482956-s662358774.html?spm=affiliate.campaign_details.0.0.349dc605RIjOts&search=1

(Tadeus Lejap)

Thursday, July 25, 2019

MENGGUGAT GURU - MELAHIRKAN GENERASI


Oleh : Donatus Dewa Lejap

Judul di atas mungkin terlalu radikal, tapi sekedar menggugat hati nurani kita kepada guru. Guru yang menjalani profesi mendidik anak bangsa, mungkin perlu digugat sebelum mereka menggugat. Guru memang salah satu profesi yang dihargai di segala penjuru dunia. Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya guru telah hadir dari masa ke masa untuk mendidik anak bangsa sekaligus melahirkan generasi. Karena itu pemerintah tidak tanggung tanggung berupaya untuk memberi perhatian total kepada guru.  Mulai dari regulasi sanpai kepada kesejahteraan guru.   Tanpa intervensi guru, tidak ada kecerdasan sebuah generasi, bahkan akan meninggalkan generasi yang tolol.
Walau demikian tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan guru dari generasi ke generasi meninggalkan torehan kelam tatkala guru berada dipersimpangan antara standar kompetensi dan standar profesionalitas. Banyak guru yang belum berijasa S1, belum memiliki NUPT, belum tersertfikasi, sekaligus belum memliki standar mengajar  24-40 jam perminggu. Persoalan-persoalan mendasar ini menjadi tolok ukur mutu pendidikan secara nasional. Karena itu mutu pendidikan kita terseret jauh ke  belakang dari negara-negara lain. Banyak pihak yang menilai rendahnya mutu pendidikan di Indonesia disebabkan karena kualitas guru yang masih dibawa standar sesuai hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG).
 Informasi kurang menggembirakan datang dari beberapa lembaga survei International terkait mutu pendidikan di Indonesia. Setidaknya, 5 lembaga survei International menempatkan tingkat pendidikan di Indonesia pada rangking bawah. Organization for Economic and Develpoment (OECD) menempatkan Idonesia di utrutan 64 dari 65 negara dalam soal mutu pendidikan. Sedangkan The Learning Curve menempatkan Indonesia pada posisi buncit dari 40 negara yang disurvei. Hanya Hasil survei TIMS and Pirls lebih bagus, menempatkan Indonesia diposisi 40 dari 42 negara. Sedangkan Word Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara. Dan, terakhir Word Literacy merangking kita di urutan 60 dari 61 negara. Kondisi ini dimungkinkan karena untuk memajukan kemampuan guru dan meningkatkan mutu pendidikan kita terkendala pada beberapa hal, antara anggaran, sistem belajar mengajar, kompetensi dan kualifikasi guru, isfrastruktur pendidikan, pemanfaatan teknologi, penumpukan guru, guru kurang membaca, dan lain-lain.(www.infodikdas.com).
https://c.lazada.co.id/t/c.XL9P
Hasil penelitian di atas tidak bermaksud untuk merendahkan mutu pendidikan kita. Tetapi agar kita  dapat segera membenahi persoalan-persoalan pendidikan kita.
Usaha semua pihak untuk menjadikan pendidikan kita jauh lebih bermutu pun sudah dan sedang  dilakukan. Misalnya anggaran pendidikan kita dari dana APBN sebesar 20 % dan berbagai regulasi yang lain tentang guru juga sudah ditetapkan oleh pemerintah.  Tapi, dengan anggaran 20 % tiap tahun pun mutu guru dan mutu pendidikan belum bisa menyamai negara lain. Mendikbud mengeluhkan sekian besar dana ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Dana Pendidikan Rp. 400 tryliun hasil tak nampak. Dengan dana 400 T pertahun, Jusuf Kalla menilai belum ada kenaikan signifikan mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Indonesia masih berada di papan menengah dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, yang anggaran pendidikannya lebih rendah 20 % dari Indonesia. (Timor Express, Kamis, 8 Pebruari 2018. Hal. 5) Pertanyaanya apakah ada yang salah dengan pendidikan kita terutama guru dan mutu pendidikan ? Maka kita perlu menggugat guru dan mutu pendidikan kita.

 Guru adalah salah profesi yang dibanggakan sekarang ketimbang dulu, selain pengacara dan dokter. Kalau dulu,  guru sekolah guru, cuma menerima gaji, tidak perlu tunjangan guru, NUPTK, mengajar 24 jam dan memiliki sertifikat pendidik serta Nomor Register Guru (NRG). Guru dulu juga tidak memiliki banyak literatur, tetapi metode mengajar mereka sederhana dan gampang diterima oleh murid. Guru tidak membutuhkan sarana transportasi yang canggih, cukup kuda atau sepeda. Berbeda dengan guru sekarang, punya HP, mobil/motor, banyak literatur, sertifikat pendidikan, Nomor Register Guru (NRG) dan lain-lain,  tetapi mutu pendidikannya tetap saja terkebelakang dari negara-negara tetangga. Pada tahun 1970an Indonesia mengeksport guru Bahasa Indonesia ke Malaysia, dan beberapa waktu kemudian mutu pendidikan Malaysia begitu lebih baik ketimbang Indonesia yang tetap melorot.
Jaman sekarang semua sudah disiapkan negara, sertifikasi, NUPTK, mengajar 24-40 jam perminggu, perangkat disiapkan, Angaran pendidian 20% dari dana APBN setiap tahun, toh mutu pendidikan sama saja seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Apakah kita terlalu sering mengganti kurikulum pendidikan, ataukah guru terlalu banyak mengerjakan administrasi, atau guru tidak membaca, sehingga mutu pendidikan tetap mengekor dari tahun ke tahun.  Kita perlu mengatakan sejujurnya bahwa persoalan mutu pendidikan yang rendah bersumber dari guru yang tidak berkualitas. Supaya kita bisa keluar dari lingkaran setan kebodohan maka kita berani menggugat kualitas guru.
Memang rumit untuk menjelaskan kualitas guru. Persoalan kualitas sebenarnya bersumber dari individu, bukan dari pihak eksternal. Guru seharusnya memahami bahwa dengan memiliki kualitas yang baik dia bisa mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan baik dan benar. Guru harus berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai cara untuk dapat meningkatkan kemampuannya. Menurut ISO-8402 (Loh, 2001:35), Kualitas adalah totalitas fasilitas dan karakteristik dari produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan, tersurat maupun tersirat. Tjiptono (2004:11), Mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian untuk digunakan (fitness untuk digunakan). Definisi lain yang menekankan orientasi harapan pelanggan pertemuan. Kadir (2001:19), Menyatakan bahwa kualitas adalah tujuan yang sulit dipahami (tujuan yang sulit dipahami), karena harapan para konsumen akan selalu berubah. Setiap standar baru ditemukan, maka konsumen akan menuntut lebih untuk mendapatkan standar baru lain yang lebih baru dan lebih baik. Dalam pandangan ini, kualitas adalah proses dan bukan hasil akhir (meningkatkan kualitas kontinuitas).(www.gurupendidikan.co.id)
Jika kualitas adalah totalitas fasilitas, maka akan menjadi pertanyaan bagi kita. Apakah dengan penyediaan fasilitas pendidikan sekarang ini  dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan? Sementara fasilitas pendidikan kita  yang terlampau banyak masih dalam keadaan yang memprihatinkan, maka mustahillah mutu pendidikan akan menjadi lebih baik. Sebaliknya jika kita memiliki fasilitas yang memadai juga apakah dengan sendirinya akan  meningkatkan mutu pendidkan? Tidak juga, karena mutu yang baik paralel dengan guru yang berkualitas disertai fasilitas yang juga memadai. Maka, jangan heran jika mutu pendidikan kita melorot yang disebabkan oleh guru yang kurang berkualitas.  Hasil akhirnya adalah pendidikan kita akan melahirkan generasi yang tidak berkualitas.
Jika demikian maka, masyarakat boleh menggugat guru sebagai akibat dari ketidak mampuannya mengajar, yang mengakibatkan mutu pendidikan tidak bisa menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja. Guru harus mengajar dengan baik. Mengajar dengan baik adalah mengajar dengan seluruh tubuhnya. Guru yang mengajar dengan seluruh tubuhnya adalah guru yang kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan mengajar dengan prinsip Ki Hajar Dewantara.
Ketiga prinsip pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu, Tut Wury Handayani, Ing Madya Mangun Karsa dan Ing Ngarso Sung Tulada. Ketiga prinsip dasar ini yang menjadi nilai dasar pendidikan kita.  Ki Hajar Dewantara telah meletakan dasar-dasar pendidikan yang sangat baik dan benar, tinggal saja kita ikuti, tapi kita masih mau membuat hal-hal baru yang sesungguhnya merusak mutu pendidikan kita. Bukan karena pendidikan sekarang itu salah, tetapi ada banyak kebobrokan yang mesti ditata dengan baik  dan sempurna. Pendidikan kita hanya melahirkan orang-orang yang hanya omong tapi tidak berbuat.
 Hanya pendidikan yang dapat melahirkan generasi, bukan harta atau kekayaan. Mungkin ketiganya bisa menjadi satu model untuk melahirkan generasi tetapi yang lebih dominan adalah pendidikan. Pendidikan jauh unggul untuk melahirkan generasi bagi sebuah bangsa. Tanpa pendidikan maka genersi yang baru hanya akan menjadi generasi materialistis tanpa kepandaian. Maka kita perlu menegakan pendidikan sebagai model untuk melahirkan generasi yang unggul. Namun  demikian, dengan pendidikan Indonesia belum bisa melahirkan generasi yang unggul. Kita masih bergelut dengan angka putus sekolah yang tinggi, kemiskinan di mana-mana, kebodohan menjadi momok menakutkan,  kemelaratan masyarakat sepanjang zaman.
Segalanya ini diakibatkan oleh karena pendidikan kita belum mampu melahirkan generasi.
Ke depan, pendidikan kita harusnya melahirkan generasi yang yang bisa berbuat/kerja lebih banyak dari pada berbicara lebih banyak. Contohnya adalah guru yang kurang profesional. Bahwa guru digaji oleh Negara untuk mengajar, dan membuat siswa menjadi pintar atau pandai, bukan malah melanggengkan kebodohan.  Selain itu kita seharusnya melahirkan generasi melalui pendidikan, demi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa pendidikan yang bermutu, maka generasi yang dilahirkan juga tidak bermutu. Kita terjerat dalam kebodohan yang langgeng.
Pada tataran konseptual kita bisa memaknai  generasi sebagai sejarah berbagai generasi muncul paling jelas dalam Kitab Suci. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia generasi artinya 1) sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya, angkatan atau turunan; 2) Masa orang-orang satu angkatan hidup. Generasi menurut Kitab Suci  menyebutan bahwa generasi biasanya memaksudkan semua orang yang lahir kira-kira pada waktu yang sama (kel : 1:6; Mat: 11;16), berkaitan dengan pengertian “orang-orang sezaman.” Di Kejadian 6:9 dikatakan mengenai Nuh,”Ia tanpa cela diantara orang-orang sezamannya.” Apabila diterapkan dalam hubungan keluarga, generasi dapat dimaksudkan dengan sekelompok keturunan, seperti putra putri atau atau cucu lelaki dan cucu perempuan (Ayub 42.16). Mungkin kita perlu memaknai seperti halnya Kitab Suci menceriterakan makna sebuah generasi.
Tetapi tentang pendidikan melahirkan generasi dimaksudkan sebagai sebuah cara atau pola untuk menghasilkan manusia-manusia yang unggul, berbakat, cerdas, pintar, inovatif,  dan berkemampuan khusus untuk menciptakan inovasi kehidupan kemasyarakat. Manusia tanpa inovasi kehidupan hanya akan membawa generasi tanpa kelahiran baru. Minimal melalui pendidikan kita dapat meneruskan generasi yang mengandalkan kehidupannya berdasarkan kecerdasan yang diperolehnya melalui pendidikan.
Sebaliknya banyak generasi yang sudah hilang atau punah sebagai akibat dari berbagai penyakit yang kini melanda manusia, milsanya HIV/AIDS, Narkoba, peperangan, pembunuhan etnis (kasus Rohinggya), perdagangan manusia,  serta kekeringan dan kelaparan yang melanda dunia. Fenomena dunia ini juga dipandang tidak dapat melahirkan generasi, bahkan membumihanguskan generasi.   Disisi lain insfrastruktur pendidikan kita masih jauh dari sempurnah. Di Manggarai misalnya, masih ada siswa yang belajar di bawah pohon. Kasus ini ada di SMP 10 Lamba Leda (Pos Kupang, Jumat, 2 Maret 2018; hal. 14). 5 tahun tidak punya gedung dan siswa siswi belajar di bawah pohon. Miris memang, tapi ini disamping menjadi pemandangan menohok dunia pendidikan, tetapi juga melanggar HAM dan merusak generasi.

Staf pada Kantor  Kementeroan Agama Kab TTS

Monday, July 8, 2019

MENGGGUGAT EKSPLOITASI AWOLOLONG



Oleh : Donatus Dewa Lejap, S.IP, M.Si
Awololong adalah sebuah pulau yang tidak terlalu luas dan tidak berpenghuni. Letaknya persis di teluk Lewoleba berhadapan dengan kota Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya sangat strategis, mudah dijangkau dengan perahu kecil atau bahkan bisa dengan berenang saja.
 
Awololong tidak sekedar sebuah pulau yang tidak berpenghuni, atau sekedar sebuah ladang pasir putih indah mempesona.  Lebih dari itu adalah sebuah pulau yang memiliki potensi kekayaan alam, dan pemandangan yang luar biasa indah. Awololong menyimpan segudang sumber daya alam  yàng sangat potensial  bahkan sangat menggoda.

Selama ini, eksploitasi atas Awololong hanya dilakukan secara tradisional, tidak dilakukan secara modern.   Penduduk Lewoleba dan sekitarnya  cuma menggali siput untuk konsumsi dan di jual sehari-hari. Itu artinya, eksploitasi atas kekayaan alam yang ada di Awololong dilakukan oleh masyakatat Lembata, dari  ratusan tahun silam hingga kini.  Siput, kerang , ikan dan lain-lain yang hidup di Awololong  merupakan kekayaan laut yang luar biasa.
 
Akhir-akhir ini Awololong menjadi sorotan media massa serta media sosial, dan oleh hàmpir semua penduduk Lembata. Masyarakat Lembata tersentak ketika dilakukan seremonial adat oleh salah satu suku di Lembata  untuk tujuan tertentu. Seremoni itu sah-sah saja, karena tujuannya ialah  bukan untuk membuat tempat itu menjadi tidak keramat, dan untuk mengusir para leluhur, melainkan untuk memohon restu leluhur  agar Awololong bisa dieksploitasi. Mengapa seremoni? Karena di sana akhir persinggahan dan awal perjalanan para leluhur menuju seluruh wilayah  Lamaholot. Di samping itu Awololong menjadi ‘isi perut’ dan ‘tali pusat’ Lamaholot.

Ceritera tentang seremoni itu kemudian mengundang sejuta tanģgapan bervariasi. Ada yang menolak tetapi juga ada yang diam-diam setuju, dàn bahkan ada yang bertepuk tangan. Tidak apa-apa,  tetapi seharusnya seremoni dilakukan  atas kesepakatan bersama seluruh suku yang berasal dari Awololong. Upaya mengubah Awololong menjadi sebuah tempat destinasi pariwisata, seperti membangun hotel terapung dan kolam  renang, Di satu sisi menguntungkan tetapi di sisi lain menggangu ekosistem, memorak-porandakan Awololong selaku tempat ‘asal- muasal’ semua suku Lamaholot. Ini menjadi sebuah   pengingkaran terhadap  budaya Lamaholot.

Tidak sampai di situ saja. Muncul  beberapa persoalan terhadap upaya mengeksploitasi Awololong. Pertama, apakah eksploitasi Awololong tidak mengganggu eksistensi kebudayaan Lamaholot? Kedua, apakah eksploitasi Awololong hanya untuk menjawab tuntutan  pariwisata dan menjamin keberlangsungan ekosistem?  Ketiga, siapa pemilik bangunan di Awololong setelah dieksploitasi? Siapa bisa menjawab?

AWOLOLONG DALAM KONSEP BUDAYA
Awololong tidak hadir begitu saja. Gundukan pasir yang muncul ke permukaan laut itu pun tidak serta merta terjadi tanpa sebuah proses alam yang luar biasa. Awololong atau pulau siput adalah sebuah daratan yang muncul ketika air laut surut dan  tenggelam ketika air laut pasang. Dalam ilmu geografi, daratan ini disebut sebagai ‘gosong pasir’. Pulau ini hanya kelihatan pada saat air laut surut. Ketika laut pasang, Pulau Siput ini tidak kelihatan. Tampak dari kejauhan hanya satu titik berwarna putih di tengah birunya laut. (Rày Koen;  Seword.com)

Walaupun hanya sebuah "gosong pasir" tetapi ia menyimpan sejuta rahasia budaya Lamaholot. Dari Awololong itulah bermula berbagai suku Lamaholot menapaki eksistensinya. Perjalanan terakhir para suku Lamaholot berawal dari pulau  Lepan Bata dan singgah di Krokopuken lalu ke Awololong lalu ke Nawawekak dan akhirnya, 37 suku itu berpisah untuk mencari tempat tinggal. Ketika di Namawekak, 37 suku itu bermain tandak semalam suntuk dan keesokan pàginya mereka semua sepakat berpisah. Kesepakatan yang paling fenomenal adalah semua suku adalah menggunakan kata “LAMA” dalam penamaan suku mereka. (Lejap;2014; 153.) Maka,  melekatlah kata Lama pada semua suku. Nama-nama suku di luar Lamaholot tidak menggunakan kata Lama.
 
Untuk mengeksploitasi Awololong seremoninya harus melibatkan semua suku Lamaholot. Karena secara budaya satu kesatuan Lamaholot atas semua suku yang diikat melalui perjanjian adat di Namaweka  belum dipatahkan melalui sebuah konsensus adat. Hati-hati karena leluhur semua suku berasal dari Awololong.
 
Mengeksploitasi Awololong bukan sebuah hal yang santun dan  membanggakan tetapi malah membuat runyam kehidupan masyarakat, yaitu masyarakat Lamaholot. Eksploitasi Awololong dengan membangun hotel terapung dengan kolam renang, dan lain-lain hanya akan merusak habitat di sekitarnya. Limbah akibat aktivitas hotel dan kolam renang jelas akan merusak ekosistem berbagai biota laut.

Bukan cuma itu! Tabu dalam budaya  dan tradisi Lamoholot eksis dengan keberadaan tempat itu. Awololong bagi masyarakat Lamaholot bukan hanya sekedar sebuah pulau siput atau sebuah 'onggokan pasir’ melainkan memiliki nilai sejarah sekelompok manusia. Hal mana para leluhur berjuang  untuk selamat dari terjangan gèlombang serta mempertahankan sebuah pèradaban, kebudayaan Lamaholot.

Andaikan benar akan terjadi eksploitasi Awololong, maka upaya itu sekaligus menghilangkan simbol peradaban dan sejarah Lamaholot. Orang Lamaholot akan kehilangan jati diri dan peradaban budaya.  Pada hal budaya Lamaholot menjadi sangat eksis di segala aspek kebidupan. Unsur-unsur kehidupan Lamaholot menjadi sangat kental  mulai dari lahir sampai mati telah dimeteraikan dalam aroma kehidupan budaya. Lahir penuh dengan tradisi Lamaholot, hidup dengan tradisi yang sama dan mati pun di-adati secara Lamaholot. Hukum, pelanggaran hak asasi manusia, politik, ekonomi, dan nilai-nilai kearifan lokal, semuanya diadatkan secara Lamaholot. Politik secara lamaholot eksis selama 10 tahun di tangan Frans Lebu Raya. Politik yang santun, cerdas, tidak semena-mena dan sangat di segani. Kebuadayaan Lamaholot menyarungi serta menyelimuti persataun, ikatan kebersamaan melalui peran tokoh-tokoh adat Lamaholot.  Gotong royong menjadi jiwa Lamaholot pulalah sehingga kita semua bisa saling membantu.

Lamaholot menjadi identitas atau jati diri yang kuat untuk membedakannya dengan  budaya yang lain. Budaya lain, seperti Manggarai, Ngada, Ende, Timor, Sumba, Sabu dan Rote, masing-masing memiliki identitas atau jati diri. Simbol-simbol tradisi dan budaya sangat kuat pengaruhnya dan menyatu dengan adat dan budaya termasuk Lamaholot.

Bila tradisi atau budaya dihilangkan, orang akan merasa hidup menjadi tidak lengkap. Begitupun akan terjadi kalau Awololong dieksploitasi, dan tempat itu berganti menggunakan nama lain. Maka akan hilanglah aset budaya leluhur yang besar itu, ‘Rumah Tradisi budaya Lamaholot.’

Mungkin banyak orang yang ingin melampiaskan nafsunya untuk mengeksploitasi Awololong demi sebuah kepentingan, tetapi harus dipikirkan dengan matang agar  nilai-nilai budaya dan tradisi Lamaholot tidak punah. Membangun dengan menolak tradisi dan budaya adalah hal yang tidak wajar. Dan orang yang menolak budaya karena ingin menguasai harta, wilayah dan bahkan tradisi adalah sesuatu pengingkaran kodrati. Budaya atau tradisi menghadirkan dan sekaligus mengajarkan nilai-nilai hukum kodrati manusia. Maka, orang tidak bisa semena-mena menghilangkan budaya atau tradisi karena berlawanan dengan hukum kodrat itu.


AWOLOLONG DALAM KONSEP PARIWISATA
Pariwisata telah menjadi ikon  yang menarik dan menjanjikan, karena dunia kepariwisataan menjadi lahan strategis untuk dikembangkan. Pariwisata di  Kabupaten Lembata belum banyak  dikembangkan menjadi aset yang memberi dampak positif bagi maayarakat.
Pembangunan dan pengembangan dunia kepariwisatan di Kabupaten Lembata boleh dikatakan belum menjadi minat strategis  walaupun di sana-sini terlihat beberapa lokasi sudah dikembangkan. Hal ini disebabkan karena grand design pembangunan kepariwisatan belum dibuat. Visi, misi,  tujuan, sasaran, asumsi, sampai pada program dan kegiatan kepariwisataan masih berjalan setengah hati.
 
Pariwisata yang  mau dikembangkan juga hanya mengikuti naluri kekuasaan.
Pada halnya untuk menarik wisatawan menuju ke lokus pariwiasata harus dibangun insfrastruktur dengan mengacu pada suatu grand design yang baku.

Pariwisata memang bukan hanya ada di Awololong karena ada juga di tempat lain. Kesannya,  pariwisata di Lembata memang sedang dikembangkan dan sejauh ini ada beberapa tempat yang menjadi agenda sesuai dengan kenyataan yang dilihat belakangan ini. Misalnya, mengeksploitasi festival 3 gunung di Lembata yang bernilai pariwisata.
 
Dampak dari pada eksploitasi itu sampai hari ini belum dapat dirasakan oleh masyarakat. Karena tidak dilakukan secara konprehensif. Jalan menuju Ile Werung baru saja dibangun ketika terjadi eksploitasi pariwisata Ile Werung. Yang terjadi ialah masyarakat kaget atas pembangunan jalan yang menelan biaya tiga miliar lebih, sedikit demi sedikit mulai dinikmati oleh máyarakat tetapi tidak berdampak pariwisata.
 
Perlu ada insfrastruktur penunjang, seperti kuliner, transpotasi, penginapan, air bersih, listrik,  signal handphone dan penataan arena. Terutama masyarakatnya harus disiapkan untuk mulai berperilaku pariwisata.
 
EKOSISTEM AWOLOLONG

Bintang laut (Foto oleh: Yohanes Kia)
Apakah sudah saatnya Awololong dieksploitasi?  Jawabannya ada di hati masing-masing orang Lembata. Tapi ada satu hal yang pasti ialah; siapa yang akan menanggung akibat dari upaya eksploitasi Awololong? Apalagi eksploitasi itu dilakukan oleh pemerintah dengan dalil untuk mengadministrasi kesejahteraan masyarakat, sehingga eksploitasi menjadi keharusan yang tak terhindarkan.

Namun eksploitasi itu akan menjadi bumerang ketika ekosistem diabaikan. Ada beberapa hal yang memang menjadi perhatian jika eksploitaai Awololong menjadi nyata.
1).  Harus ada Perda Tata Kelola Awololong sebagai aset Pemda. Perda itu untuk memastikan tata kelola Awololong dan juga sebagai payung hukum yang memastikan siapa pengelola, pertanggungjawaban aset dan pengawasan, pengelolaan serta kompensasi untuk Pemda.
2). Akan ada begitu banyak aktivitas dan moblisasi manusia dan peralatan serta bahan bangunan dari dan menuju Awololong.
3). Apakah eksploitasi Awololong itu didahului dengan studi AMDAL? AMDAL menjadi keharusan utama sebelum dilakukan eksploitasi. Jika studi AMDAL belum dilakukan maka sebaiknya selesaikan AMDALnya terlebih dahulu.  
4).  Ke mana limbah hotel harus di buang? Mungkin bisa diatasi dengan high technology tetapi itu juga yang akan mempercepat kepunahan Awololong
5). Dan  kerusakan ekosistem menjadi nyata di depan mata. Sudah pasti akan ada berbagai biota laut punah. Siput, ikan, rumput laut, pantai dan terumbu karang akan mati akibat dari aktivitas pembangunan.

Maka mayarakat akan kehilangan sejumlah komoditi dan makanan laut akibat dari rusaknya ekosistem.  Bagaimana tidak? Masyarakat di sekitar Awololong itu selalu mencari siput dan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ada yang dimakan dan ada juga yang dijual. Jika ekosistem Awololong dan sekitarnya punah, maka menjadi pertanyaan; ke mana masyarakat menggantungkan sebahagian hidupnya?

Banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang dan rasiaonal. Untuk mengekaploitasi Awololong tidak bisa dilakukan dengan irasional dan serta-merta tanpa mempertimbangkan segala resiko yang bakal terjadi. Siapakah yang akan menanggung penderitaan selamanya?

Penulis lahir di Lembata, 10 April 1960,
tinggal di Oebufu, Kota Kupang 
No. Hp: 081338916700















MEMBANGUN USAHA DENGAN MODAL PINJAMAN KOPERASI (4)

Oleh: Rofinus Emi Lejap MENJADI PRODUSEN SIRUP "BUAH SEMU" JAMBU MENTE Setelah mengetahui cara mengolah buah semu jambu men...